
CILACAP – Minyak jelantah yang sebelumnya kerap dibuang sebagai limbah rumah tangga kini memiliki nilai ekonomi melalui pengelolaan bank sampah di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Inisiatif ini tidak hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mendukung pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Program tersebut mendapat perhatian Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat meninjau pengembangan SAF berbasis minyak jelantah di PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit IV Cilacap, Senin (26/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, Gibran berdialog dengan kelompok ibu-ibu pengelola bank sampah yang terlibat dalam pengumpulan minyak jelantah dari masyarakat.
Gibran mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga menjadi bahan baku yang berpotensi mendukung industri energi nasional. Menurutnya, inovasi energi perlu memberikan manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat yang terlibat.
“Saya mengapresiasi peran ibu-ibu dan komunitas di Cilacap yang telah berkontribusi dalam pengelolaan minyak jelantah. Ini menunjukkan bahwa kegiatan sederhana yang dimulai dari rumah bisa terhubung dengan inovasi energi nasional dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Gibran, dikutip dari keterangan resmi Sekretariat Wakil Presiden pada 26 Oktober 2026.
Salah satu kelompok yang terlibat adalah Bank Sampah Beo Asri. Direktur Bank Sampah Beo Asri, Sri Widowati, menjelaskan bahwa kelompoknya mulai mengembangkan pengumpulan minyak jelantah setelah mendapatkan edukasi mengenai pemanfaatannya sebagai bahan baku energi pada 2023. Dengan pendampingan Pertamina Patra Niaga pada 2025, kegiatan pengumpulan tersebut semakin berkembang.
Sri mengungkapkan, volume minyak jelantah yang dikumpulkan kelompoknya meningkat dari jumlah yang sebelumnya relatif sedikit hingga mencapai sekitar 100 kilogram per bulan. Perkembangan ini menunjukkan bahwa edukasi dan pendampingan dapat membantu masyarakat memanfaatkan limbah rumah tangga secara lebih produktif.
Selain Beo Asri, pengumpulan minyak jelantah juga dilakukan Bank Sampah Abhipraya dan Bank Sampah Cahaya Asri. Minyak yang dihimpun dari warga kemudian disalurkan melalui mitra pengumpul untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. Masyarakat juga memperoleh nilai ekonomi dari minyak jelantah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan secara optimal.
Dari sisi industri, Pertamina Patra Niaga mengembangkan SAF dengan memanfaatkan minyak jelantah melalui fasilitas pengolahan di Kilang Cilacap. Proses tersebut menggunakan skema co-processing, yakni mengolah minyak jelantah bersama bahan baku lain dalam unit pengolahan yang tersedia. Pengembangan ini menjadi salah satu upaya pemanfaatan sumber daya domestik untuk mendukung energi penerbangan yang lebih berkelanjutan.
Keterlibatan bank sampah dalam rantai pasok tersebut memperlihatkan hubungan antara pengelolaan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan inovasi energi. Minyak jelantah yang dikumpulkan secara teratur dapat mengurangi risiko pencemaran akibat pembuangan sembarangan sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi kelompok masyarakat.
Melalui kolaborasi antara masyarakat dan industri, pengelolaan minyak jelantah di Cilacap diharapkan terus berkembang sebagai kegiatan yang memberikan manfaat lingkungan dan ekonomi. Pendampingan berkelanjutan serta akses penyaluran yang jelas menjadi faktor penting agar lebih banyak warga dapat berpartisipasi dalam pemanfaatan limbah menjadi sumber daya bernilai guna.
