BBM E20 Mulai Disiapkan, Pemerintah Targetkan Penerapan Etanol 20 Persen pada 2027

JAKARTA – Pemerintah terus menyiapkan penerapan bahan bakar minyak (BBM) campuran bioetanol 20 persen atau E20 sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan impor bensin. Program tersebut disiapkan secara bertahap dengan memperkuat ketersediaan bahan baku dan industri bioetanol di dalam negeri.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya memimpin rapat terbatas yang membahas percepatan produksi E20. Dalam rapat tersebut, pemerintah menargetkan produksi BBM dengan campuran etanol 20 persen dapat diwujudkan dalam waktu sekitar dua tahun. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan Presiden juga menginstruksikan penyediaan lahan untuk mendukung kebutuhan bahan baku bioetanol.

Pemerintah menyiapkan tebu sebagai salah satu sumber utama bahan baku bioetanol. Presiden meminta Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyiapkan lahan tebu yang tersedia hingga sekitar 2 juta hektare untuk mendukung program E20. Selain itu, Badan Pengelola Investasi Danantara diarahkan menyiapkan industri pengolahan etanol dalam negeri.

Zulkifli mengatakan kebutuhan bahan baku tidak hanya berasal dari tebu, tetapi juga dapat memanfaatkan komoditas lain seperti singkong. Pemerintah juga berencana menambah kebun tebu untuk memastikan pasokan bahan baku E20 mencukupi tanpa mengganggu ketahanan pangan, khususnya kebutuhan gula nasional.

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyampaikan penerapan campuran etanol akan dilakukan secara bertahap. Pemerintah menargetkan penggunaan E10 sebagai tahap awal pada 2027 sebelum menuju E20. Peta jalan menuju E20 diproyeksikan berlangsung hingga 2028-2029.

Kementerian ESDM juga menegaskan penerapan mandatori E20 masih bergantung pada kesiapan bahan baku dan persiapan teknis. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan bioetanol dalam negeri sebelum menetapkan tingkat pencampuran yang diwajibkan secara luas.

Kebijakan pengembangan bioetanol tersebut ditujukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin sekaligus mendorong pemanfaatan sumber energi terbarukan. Pemerintah juga ingin memastikan kebutuhan etanol untuk program BBM campuran dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri, bukan bergantung pada impor.

Dengan persiapan tersebut, pemerintah terus membangun ekosistem pendukung E20, mulai dari penyediaan lahan bahan baku, pembangunan industri pengolahan, hingga penyusunan kebijakan mandatori. Program ini menjadi bagian dari agenda transisi energi sekaligus upaya memperkuat ketahanan energi nasional.

Penerapan E20 nantinya akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan pasokan bioetanol dan infrastruktur pendukung. Pemerintah menargetkan produksi E20 dapat semakin berkembang dalam beberapa tahun ke depan seiring penguatan industri bahan bakar nabati di dalam negeri.