
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto
JAKARTA – Pemerintah memproyeksikan sektor ramah lingkungan atau green jobs dapat menyerap hingga 5,3 juta tenaga kerja pada 2029. Potensi tersebut sejalan dengan pengembangan energi bersih dan transformasi menuju ekonomi yang lebih rendah karbon di Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan perkembangan energi hijau membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting untuk menangkap peluang pekerjaan yang muncul dari transformasi sektor energi.
“Energi hijau ini butuh tenaga kerja yang berbeda dan tenaga kerja ini di tahun 2029 diperkirakan di sektor ini bisa mempekerjakan 5,3 juta orang,” ujar Airlangga dalam Seminar Nasional Green Economy 2045 di Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Airlangga menjelaskan, kebutuhan tenaga kerja tersebut akan muncul seiring berkembangnya berbagai kegiatan ekonomi berbasis energi bersih, termasuk pembangkit listrik tenaga surya, industri, hingga konversi energi. Karena itu, tenaga kerja dengan keterampilan yang lebih spesifik diperlukan untuk mendukung perkembangan sektor tersebut.
Pemerintah juga mulai menyiapkan sumber daya manusia agar dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor hijau. Salah satunya melalui program magang dan pendidikan vokasi yang diarahkan untuk meningkatkan keterampilan calon tenaga kerja.
Selain membuka peluang pekerjaan, Airlangga menyebut pengembangan energi hijau secara masif juga berpotensi memberikan tambahan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Jika investasi masuk dan berbagai proyek energi hijau dikerjakan di dalam negeri, sektor tersebut diperkirakan dapat memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi sekitar 2 hingga 3 persen.
Proyeksi tersebut sejalan dengan Peta Jalan Pengembangan Tenaga Kerja Hijau Indonesia yang disusun Kementerian PPN/Bappenas. Dalam skenario pertumbuhan ekonomi tinggi, jumlah tenaga kerja hijau di Indonesia diperkirakan meningkat dari sekitar 4 juta orang pada 2025 menjadi lebih dari 5,3 juta orang atau sekitar 3,14 persen dari total tenaga kerja pada 2029.
Bappenas juga memperkirakan terdapat sekitar 56 juta pekerjaan yang berpotensi menjadi pekerjaan hijau pada 2025. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 72 juta pekerjaan pada 2029. Artinya, selain menciptakan pekerjaan baru, transformasi ekonomi hijau juga berpotensi mengubah pekerjaan yang sudah ada agar semakin sesuai dengan prinsip ekonomi rendah karbon.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli sebelumnya mengatakan pemerintah perlu menyiapkan kompetensi tenaga kerja untuk menghadapi peluang green jobs. Persiapan tersebut mencakup keterampilan siap kerja, kurikulum, instruktur, fasilitas pelatihan, sertifikasi, hingga pengakuan kompetensi.
Pengembangan sektor ramah lingkungan juga berkaitan dengan potensi Indonesia dalam mengembangkan energi terbarukan dan industri berbasis mineral strategis. Airlangga menyebut pengembangan hilirisasi akan semakin penting apabila didukung oleh ketersediaan energi yang bersih, andal, dan terjangkau.
Dengan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja hijau, pemerintah mendorong penguatan keterampilan dan pendidikan vokasi agar peluang yang muncul dari transisi energi dapat diisi oleh tenaga kerja dalam negeri. Pengembangan sektor tersebut diharapkan tidak hanya mendukung agenda lingkungan, tetapi juga membuka lapangan kerja sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
