
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam jumpa pers di Istana, Jakarta, Selasa (22/9/2026)
JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mendorong penguatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional agar semakin kompetitif sekaligus mampu menciptakan lapangan kerja secara lebih luas. Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari dukungan pembiayaan dan investasi hingga restrukturisasi perusahaan yang menghadapi persoalan keuangan.
Penguatan industri TPT menjadi salah satu agenda dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo bersama sejumlah menteri dan pejabat di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/9/2026). Pemerintah menilai industri tekstil memiliki peran strategis karena mencakup sektor hulu hingga hilir serta menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Presiden Prabowo menegaskan bahwa industri tekstil bukan merupakan sunset industry. Karena itu, sektor tersebut masih memiliki ruang untuk melakukan reinvestasi, meningkatkan produksi, dan memperkuat modal kerja.
“Industri tekstil bukan industri yang dikategorikan sunset sehingga ini bisa mendorong untuk reinvestasi maupun penambahan daripada modal kerja,” ujar Airlangga usai rapat di Istana Kepresidenan.
Perbankan Didorong Biayai Peremajaan Mesin
Salah satu langkah yang dibahas pemerintah adalah memperkuat akses pembiayaan bagi industri tekstil. Presiden Prabowo mengarahkan bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk kembali memberikan pembiayaan kepada industri TPT, khususnya dalam rangka peremajaan mesin produksi.
CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Rosan Roeslani mengatakan pembaruan mesin diperlukan agar industri tekstil Indonesia dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing dalam menghadapi persaingan produk dari negara lain.
Selain pembiayaan perbankan, pemerintah juga membahas pemberian insentif untuk mendukung investasi di sektor tersebut, termasuk opsi tax holiday maupun tax allowance sesuai kebijakan yang akan diterapkan.
Danantara Didorong Bantu Restrukturisasi Industri
Pemerintah juga memberikan perhatian terhadap perusahaan tekstil yang sedang menghadapi persoalan keuangan. Presiden meminta Danantara segera aktif membantu penyelesaian proses restrukturisasi perusahaan sehingga investasi dapat kembali berjalan dan kapasitas produksi dapat diperkuat.
Danantara juga menyiapkan rencana kawasan khusus yang mengintegrasikan industri tekstil dari sektor hulu hingga hilir. Integrasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi, pemanfaatan teknologi, serta daya saing produk tekstil Indonesia.
Industri Tekstil Jadi Penopang Lapangan Kerja dan Ekspor
Pemerintah menilai penguatan TPT penting karena sektor ini memiliki kontribusi terhadap perekonomian nasional. Data yang disampaikan pemerintah menunjukkan industri TPT menyumbang sekitar 0,97 persen terhadap PDB, menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja, serta mencatat nilai ekspor sekitar US$12 miliar.
Dari sisi pertumbuhan, industri tekstil tercatat tumbuh sekitar 5,6 persen, sementara industri barang dari kulit dan alas kaki tumbuh 8,25 persen. Tingkat utilisasi pabrik tekstil juga berada di kisaran 75 persen, yang menurut pemerintah masih memberikan ruang bagi peningkatan produksi dan ekspansi.
Pemerintah turut membahas penataan impor, kemudahan memperoleh bahan baku, harmonisasi tarif dari sektor hulu hingga hilir, serta kebijakan ketenagakerjaan untuk mendukung keberlanjutan industri.
Melalui berbagai langkah tersebut, pemerintah berupaya menjaga industri tekstil tetap produktif, memperkuat daya saing produk nasional, serta membuka ruang bagi investasi dan penciptaan lapangan kerja di sektor padat karya.
